Aku Menyanyikan Over the Rainbow di Hari Pemakamanmu
Rp 79.000
Penerbit: PT Binarcita Cipta Pratama
Penulis: Muhammad Rifan Prianto, dkk
Editor: Fiksioritas
Desainer: Fiksioritas
Cetakan Pertama, April 2026
XI + 166 hlm.; 14 × 20 cm
QRCBN: 62-9207-7962-771
Jilid: Softcover
Penulis: Muhammad Rifan Prianto, dkk
Editor: Fiksioritas
Desainer: Fiksioritas
Cetakan Pertama, April 2026
XI + 166 hlm.; 14 × 20 cm
QRCBN: 62-9207-7962-771
Jilid: Softcover
Blurb:
Tidak semua kehilangan datang dengan air mata, dan tidak semua perasaan menemukan jalannya untuk pulang. Aku Menyanyikan Over the Rainbow di Hari Pemakamanmu menghadirkan beragam suara yang lahir dari pengalaman yang berbeda, tentang rindu yang tertahan, luka yang belum selesai, juga harapan yang tetap hidup di sela hal-hal yang rapuh. Setiap puisi menyampaikan sesuatu dengan caranya sendiri, kadang lirih, kadang terasa dekat tanpa banyak kata, seperti percakapan yang tidak pernah benar-benar diucapkan.
Buku ini tidak berusaha menyatukan semuanya dalam satu arah, melainkan membiarkan setiap rasa tetap utuh sebagaimana adanya. Di dalamnya, ada ruang untuk berhenti sejenak, membaca tanpa terburu, dan mungkin menemukan bagian kecil dari diri sendiri di antara baris-barisnya. Sebab pada akhirnya, puisi-puisi ini bukan sekadar untuk dipahami, tetapi untuk dirasakan, dengan cara yang sederhana dan jujur.
Tidak semua kehilangan datang dengan air mata, dan tidak semua perasaan menemukan jalannya untuk pulang. Aku Menyanyikan Over the Rainbow di Hari Pemakamanmu menghadirkan beragam suara yang lahir dari pengalaman yang berbeda, tentang rindu yang tertahan, luka yang belum selesai, juga harapan yang tetap hidup di sela hal-hal yang rapuh. Setiap puisi menyampaikan sesuatu dengan caranya sendiri, kadang lirih, kadang terasa dekat tanpa banyak kata, seperti percakapan yang tidak pernah benar-benar diucapkan.
Buku ini tidak berusaha menyatukan semuanya dalam satu arah, melainkan membiarkan setiap rasa tetap utuh sebagaimana adanya. Di dalamnya, ada ruang untuk berhenti sejenak, membaca tanpa terburu, dan mungkin menemukan bagian kecil dari diri sendiri di antara baris-barisnya. Sebab pada akhirnya, puisi-puisi ini bukan sekadar untuk dipahami, tetapi untuk dirasakan, dengan cara yang sederhana dan jujur.
Diskusi